Welcome to Mahesa Jundulloh: Hafizhoh | Mahesa Jundulloh | Islam | Statistics

Quote

"A happiness is a simple thing to feel. It just needs your sincerity to all you have"
Showing posts with label Hafizhoh. Show all posts
Showing posts with label Hafizhoh. Show all posts

Tuesday, October 13, 2015

Tilawah QS. Azzumar: 1-3 by Mahesa Jundulloh


تَنۡزِيۡلُ الۡكِتٰبِ مِنَ اللّٰهِ الۡعَزِيۡزِ الۡحَكِيۡمِ‏ 
(39:1) The revelation of this Book is from Allah, the Most Mighty, the Most Wise.1
1. This is a brief introduction to the Surah which only stresses the point that the Quran is not Muhammad’s (peace be upon him) word, as the disbelievers assert, but it is Allah’s Word, which He Himself has sent down. Along with this, two of Allah's attributes have been mentioned to warn the listeners of two realities so that they do not underestimate this Word but understand its full importance: (1) That Allah Who has sent it down, is All-Mighty; that is, He is so powerful that no power can prevent His will and decisions from being enforced and none can dare resist Him in any way. (2) That He is All-wise; that is, the guidance He is giving in this Book, is wholly based on wisdom, and only an ignorant and foolish person can turn away from it. (For further explanation, see (E.N. 1 of Surah As-Sajdah).

Tuesday, October 6, 2015

UNTUKMU SANG MUROBBI


Ditulis oleh: Hendra P (Mahesa Jundulloh)
Blog: mahesajundulloh.blogspot.com

Agenda mentoring serempak ke-2 untuk mahasiswa baru pada Ahad lalu diisi dengan nonton film "Sang Murobbi" bersama. Agak berbeda memang dengan Mentoring ke-1 dua pekan lalu yang diisi Cyber Motivation. 

Agenda dimulai dengan briefing pagi dari pembina untuk para mentor. Setelah itu baru dilanjutkan dengan agenda menonton film "Sang Murobbi" dan mentoring. 

Ada satu cerita menarik yang semoga bisa menjadi inspirasi bagi kita. Berikut ceritanya. 

Di kampus ini hampir semua mahasiswa berasal dari keluarga berada memang. Gadget mereka saja saya perhatikan bermerk "gambar apel dengan sedikit gigitan". Mahasiswa, baik mahasiswa baru maupun senior, ke kampus pun banyak sekali yang bermobil. Jarang yang mengenal "angkot". Belum lagi tidak terbayang mahalnya biaya pendidikan di kampus ini

Salah satu peserta mahasiswa baru muslim yang alhamdulillah mau ikut Mentoring, anggap saja bernama dik Fulan, juga sama. Dia berasal dr salah satu sekolah negeri di Jakarta. Ayahnya saat ini menetap di Hong Kong, bekerja di salah satu Bank BUMN dan mendapat tugas penempatan di sana. Dik Fulan tinggal di salah satu bangunan semacam apartemen mahasiswa mewah yang disediakan kampus. Saya coba bandingkan, mungkin biaya kumulatif 2 tahun untuk kosan di Bogor setara dengan biaya bulanan untuk sewa tinggal di situ.

Sebelum acara Mentoring dimulai, para mentor mengikuti briefing terlebih dahulu oleh pembina (Pak R. Saleh) dan juga oleh saya. Kami membuat lingkaran kecil di bagian kiri Musholla. Sebenarnya apa yang disampaikan Pak Saleh dalam briefing sudah cukup membangunkan gelora dakwah. Apa yang Beliau sampaikan adalah tentang niat dan reorientasi menjadi mentor. Tujuannya untuk membangkitkan semangat mereka yang sepertinya sudah mulai kendor. 

Saya tak kuasa sebetulnya ketika diberi kesempatan oleh Pak Saleh untuk memberikan sedikit pengantar dalam briefing itu. Sudah cukup rasanya apa yang beliau sampaikan menjadi pengingat para mentor.
Saat kalimat pertama keluar dr lisan saya, air mata saya sudah berlinang dan jatuh dari pelupuk mata. Sebetulnya malu harus menangis di depan mereka. Sudah coba saya, tapi akhirnya tak terbendung juga. Salah satu mentor yang hadir juga turut berderai air mata. Kami larut dalam keharuan.

Saat itu yang saya bayangkan adalah sosok seorang murobbi yang sampai sekarang masih melekat betul di ingatan saya. Murobbi saya saat di Bogor, dimasa-masa awal saya mengenal tarbiyah. Lebih tepatnya saat saya masih tingkat2 awal kuliah. Sebut saja Beliau adalah ustadz Nurhalim, Lc. Beliau saat ini sedang melanjutkan pendidikan di negeri 2 Benua.

Wednesday, September 9, 2015

Para Penjaga Wahyu - Film Penghafal Al-Qur'an



Menghafalkan Al-Qur'an butuh tekad yang kuat. Lewat film ini kita mendapatkan beberapa resep dari para ustadz dan santri Griya Qur'an soal bagaimana menghafal Al-Qur'an.

Semoga Allah selalu memudahkan jalan kita untuk dekat dengan-Nya :)

Presented by WANT Production @filmmakermuslim & Griya Qur'an

in Association with Zanetta Production

Saturday, May 30, 2015

Ukhuwah Islamiyah Begitu Indah Berbau Surga


 ~sebuah kisah nyata~

By Mahesa Jundulloh 
Kamis, 27 November 2014

Tersebutlah seorang pemuda, anggap saja bernama akh Parlan. Usianya masih belia. Tak ada yang berbeda dengan kebanyakan anak muda Jakarta. Tampilannya masih seperti mahasiswa, tapi tampilan bisa saja menipu bukan? Kadang dan kerapkali dia memakai celana jeans dan mengenakan tas ransel hitam.

Waktu menunjukan pukul tujuh malam. Akh Parlan rupanya baru pulang dari sebuah kampus ternama, kampus perjuangan di kota Depok. Usut punya usut ia baru saja selesai menghadiri acara talkshow dengan Pembicara Ustadz Efendi Antar, Lc (Ketua Badan Perwakilan Tahfidz Al Qur'an Internasional di Indonesia) dan Ustadzah Sarmini, Lc (Doktor, alumnus International University of Africa dan penulis buku "Alhamdulillah Balitaku Khatam Qur'an").

Ternyata kondisi fisiknya yang masih lunglai akibat sakit tak menyurutkan langkahnya untuk beranjak dari pembaringannya menuju tempat menuntut ilmu. Ilmu yang benar-benar sedang ia azamkan untuk dapat dihimpun, dipelajari dan diterapkan, yakni ilmu tentang mengapa seorang muslim harus banyak berinteraksi dengan Al Qur'an.

Sebagai pengguna setia moda transportasi umum, akh Parlan ini merasa menikmatinya. Bukan hanya agar ia punya banyak waktu untuk berinteraksi dengan orang lain dan mempelajari bagaimana seharusnya bermuamalah, dia selalu ingin menemukan banyak momen yang penuh ibroh yang bisa ia jadikan inspirasi tulisan atau bahkan agar waktu perjalanannya dapat ia gunakan untuk menghafal atau membaca Al Qur’an atau kitab lainnya.

Wednesday, May 27, 2015

ODAMINOA, Komunitas Penghafal Al Quran di Grup Whatsapp


Latar Belakang ODAMINOA

Menjadi seorang Hafidz atau Hafidzah Al Qur`an mungkin dirasa hanya impian belaka terutama bagi muslimin atau muslimah yang tidak ada background pendidikan dari lembaga Tahfidz Qur`an, dari keluarga yang kurang berinteraksi dengan Al Qur`an, atau bahkan bagi mereka yang sudah berusia tak lagi remaja sehingga dirasa terlambat untuk menghafal Al Qur`an. Belum lagi ketakutan-ketakutan yang bergelayut di alam bawah sadar seperti keyakinan absurd bahwa menghafal Al Qur`an adalah hal yang sangat sulit dilakukan ditengah aktivitas yang begitu padat atau ketakutan bahwa seorang hafidz Al Qur`an mempunyai tanggung jawab berat yang harus dipikul hingga kelak di hadapan Allah SWT.

Tema postingan apa yang perlu diperbanyak?